LAPORAN KEUANGAN

Presentasi dosen ffm1017 @ Financial Planning and Forecasting

 

I. LAPORAN KEUANGAN

Manajemen secara periodik harus mengetahui posisi keuangan, hasil operasi dan
perubahan posisi keunagan perusahaan. Guna keperluan tersebut tiap akhir periode perlu dibuat laporan keuangan perusahaan.

Laporan keuangan yang dibuat terdiri dari :
- Neraca.
- Laporan Laba / Rugi.
- Laporan Perubahan Posisi Keuangan / Arus Kas.

Laporan keuangan tersebut selain berguna bagi manajemen untuk perencanaan,
pengambilan keputusan dan pengendalian juga berguna bagi pihak luar yang mempunyai kepentingan terhadap perusahaan. Pihak luar yang dimaksudkan antara lain bank / kreditur, pemerintah dan calon investor.

Tujuan pembuatan laporan keuangan menurut Standar Akuntansi Keuangan
tahun 1994, adalah :
“Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi”.

Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang
mungkin dibutuhkan pemakai secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian di masa lalu dan tidak diwajibkan untuk menyediakan iinformasi non keuangan.

Laporan keuangan juga menunjukan apa yang telah dilakukan manajemen atau
pertanggung-jawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Pemakai yang ingin menilai apa yang telah dilakukan atau pertanggung – jawaban manajemen berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusan ekonomi; keputusan ini mungkin mencakup misalnya :
keputusan untuk mengangkat kembali atau mengganti manajemen.

I. NERACA
Neraca adalah laporan keuangan yang memberikan informasi tentang harta, utang dan modal pada suatu saat. Jadi neraca merupakan potret kekeyaan perusahaan pada tanggal dibuatnya. Kalau kita hubungkan dengan arus keuangan perusahaan, arus itu kita hentikan sejenak dan kita buat daftar saldo dari harta utang dan modal; daftar saldo itulah yang disebut Neraca.

Dua bagian utama dari Neraca adalah :
- Harta/ asset
- utang dan modal

1. HARTA
Harta yang dimiliki oleh perusahaan dapat dikelompokkan menjadi :
- Harta lancar
- Penyertaan (investasi)
- Harta Tetap
- Harta Tak Berwujud
- Harta lain-lain

A.Harta Lancar/Aktiva Lancar (Current Asset)
Adalah kas / bank atau aktiva yang dapat diharapkan menjadi uang tunai atau dipakai habis dalam satu tahun atau satu siklus kegiatan usaha.

Komponen dan susunan harta lancar :
- Kas / Bank
Termasuk dalam pos ini adalah alat pembayaran yang siap dan bebas digunakan untuk membiayai kegiatan umum perusahaan.
- Surat-surat Berharga
Termasuk dalam pos ini adalah surat berharga dalam pemanfaatan dana yang tidak digunakan, mudah dijual dan bukan dimasukan untuk menguasai
perusahaan lain.
- Deposito Jangaka Pendek
- Piutang Usaha
Piutang yang timbul karena penyerahan / penjualan produk / jasa dalam rangka kegiatan normal perusahaan. Piutang dinyatakan dalam jumlah kotor dan selanjutnya diikuti dengan penyisihan untuk piutang yang diragukan atau taksiran jumlah yang tidak tertagih.
- Wesel Tagih
Wesel tagih adalah piutang yang telah diperkuat / dijamin dengan promes /
wesel.
- Piutang Lain – lain
Termasuk pos ini adalah piutang yang timbul diluar kegiatan usaha.
- Persediaan
Termasuk pos ini adalah nilai persediaan bahan, barang dalam proses dan
barang jadi.
- Pembayaran Uang Muka
Hanya untuk pembelian harta lancar.
- Pajak Dibayar Dimuka
- Biaya Dibayar Dimuka

B. PENYERTAAN
Termasuk dalam pos ini adalah kekayaan perusahaan yang ditanamkan dalam
perusahaan lain atau dalam bentuk dana, yang terdiri antara lain :
- Saham pada perusahaan lain atau perusahaan afiliansi.
- Tanah untuk ekspansi/spekulasi.
- Sinking fund (dana pelunasaan obligasi).

C. HARTA TETAP / AKTIVA TETAP (FIXED ASSET)
Harta tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam opersai perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai manfaat lebih dari satu tahun.
Komponen dan sususnan harta tetap adalah :
- Tanah.
- Bangunan, nilai beli dan akumukasi penyusurtannya.
- Mesin pabrik, nilai beli dan akumulasi penyusutannya.
- Kendaraan, nilai beli dan penyusustannya.
- Peralatan kantor, nilai beli dan penyusutannya.
- Dan lain – lain.

D. HARTA TAK BERWUJUD (INTANGIBLE ASSET)
Harta tak berwujud adalah harta tidak lancar dan tak berbentuk yang memberikan hak ke ekonomian dan hukum kepada pemiliknya. Nilai yang tercantum dalam neraca adalah nilai buku, yaitu nilai perolehan setelah dikurangi amortisasi.
Termasuk dalam kelompok harta tak berwujud adalah :
- Hak paten.
- Hak cipta.
- Franchise (wara – laba).
- Merk dagang.
- Good will.

E. HARTA LAIN-LAIN
Pos-pos yang tidak dapat secara layak digolongkan dalam harta tetap dan juga
tidak dapat digolongkan dalam harta lancar, penyertaan maupun harta tak
berwujud.
Termasuk dalam kelompok ini, antara lain :
- Harta tetap dalam kontruksi
- Harta tetap yang tidak digunakan
- Piutang kepada pemegang saham
- Dan lain – lain.

2. UTANG

A. UTANG (KEWAJIBAN) JANGKA PENDEK
Utang jangka pendek adalah kewajiban yang diharapkan akan dilunasi dalam satu tahun atau satu siklus operasional normal perusahaan, mana yang lebih llama.
Termasuk dalam kelompok ini adalah :
- Utang usaha.
- Pinjaman bank.
- Pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo.
- Uang muka penjualan.
- Utang pajak.
- Utang dividen.
- Pendapatan yang ditangguhkan.

B. UTANG (KEWAJIBAN) JANGKA PANJANG
Utang jangka panjang alah pos yang berisi utang yang akan jatuh tempo dalam
waktu lebih darisatu tahun.
Dalam kelompok ini, antara lain :
- Utang obligasi.
- Utang bank jangka panjang.
- Utang sewa guna usaha (finance lease).

C. UTANG LAIN-LAIN
Utang lain-lain adalah utang yang tidak dapat di klasifikasikan kedalam utang jangka pendek maupun utang jangka panjang, karena waktunya tidak pasti.
Termasuk kelompok ini adalah :
- Utang kepada Direksi / Komisaris.
- Utang Subordinasi.

3. MODAL
Susunan pos modal sangat dipengaruhi oleh bentuk badan usaha, tetapi didasarkan pada tingkat kekayaaan, antara lain :
- Modal disetor.
- Agio (premium) saham.
- Laba ditahan.
- Cadangan.
- Selisih penilaian kembali aktiva tetap.

II. LAPORAN LABA – RUGI
Laporan laba – rugi adalah laporan keuangan yang menunjukan prestasi perusahaan (pendapatan yang diperoleh dan beban biayanya) untuk periode tertentu.

Unsur-unsur Laporan Laba – Rugi
1. Pendapatan Usaha / Operasi
Pendapatan usaha / operasi sangat tergantung jenis usaha dari perusahaan,
namun bisa digolongkan :
a. Penjualan Produk
Diakui pada tanggal penjualan yang biasanya merupakan tanggal
penyerahan produk kepada pembelinya.
b. Pendapatan Jasa
Diakui pada saat jasa tersebut sudah dilakukan dan sudah dapat dibuatkan fakturnya.
c. Imbalan Atas Penggunaan Aktiva Oleh Pihak Lain Diakui sejalan dengan berlakunya waktu (seperti bunga, sewa dan royalti).
Penjualan produk diterapkan pada perusahaan dagang dan manufaktur, pendapatan jasa diterapkan untuk perusahaan jasa tertentu, misalnya konsultan dan sejenisnya sedangkan imbalan untuk jasa penyewaan aktiva, perkreditan, asuransi dan sejenisnya.

2. Harga Pokok Penjualan (HPP)
HPP, umumnya dipakai pada perusahaan manufactur dan perusahaan
dagang.
HPP dihitung sebagai berikut :
Perusahaan dagang perusahaan manufactur
Persediaan awal xx persediaan awal xx
Pembelian xx (+) harga pokok produksi xx (+)
Tersedia untuk dijual xx tersedia untuk dijual xx
Persediaan akhir xx (-) persediaan akhir xx (-)
HPP xx HPP xx
Harga Pokok Produksi
Harga Pokok Produksi adalah biaya atas produk yang selesai dibuat untuk periode tertentu, pada perusahaan manufaktur. Perhitungan harga pokok produksi adalah sebagai berikut :

HARGA POKOk PRODUKSI
Persediaan awal barang dalam proses…………………….. xx
Bahan
- Persediaan awal………….. xx
- Pembelian……………………xx +/+
- Bahan tersedia……………..xx
- Persediaan akhir…………..xx -/-
- Bahan yang dipakai……………………..xx
Biaya Tenaga Kerja………………………………….xx
Biaya Umum Pabrik *)………………………………xx
Biaya Produksi………………………………………………………xx +/+
Total barang dalam proses selama periode……………….xx
Persediaan akhir barang dalam proses…………………….xx
Harga Pokok Produksi…………………………………………….xx
*) Biaya Umum Pabrik adalah biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk
memungkinkan produksi dilakukan, antara lain terdiri :
- Gaji manajer pabrik.
- Gaji supervisor / mandor, teknisi.
- Penyusutan gedung pabrik.
- Penyusutan mesin dan peralatan.
- Penyusutan mesin dan gedung pabrik.
- Pajak bumi dan bangunan pabrik.
- Lstrik dan air.
- biaya pabrik lain-lain.

3. Biaya / Beban Operasi
a. Biaya Penjualan
Biaya pemasaran adalah biaya yang terkait dengan proses penjualan,
yang terdiri antara lain :
- Gaji manajer / karyawan bagian pemasaran.
- Komisi penjualan.
- Biaya iklan.
- Biaya penyusutan gedung bagian pemasaran.
- Ongkos angkut penjualan.
- Biaya penjualan lain – lain.
b. Biaya Umum dan Administrasi
biaya umum dan administrasi adalah biaya kegiatan pendukung,
misalnya biaya direksi, biaya bagian keuangan, biaya bagian
personalia, biaya bagian umum dan biaya bagian pendukung lainnya.

4. Pendapatan dan Biaya Non Operasional
a. Pendapatan Non Operasi
Pendapatan ini merupakan pendapatan diluar usaha, misal : penjualan
aktiva tetap, pendapatan jasa giro, dan lain-lain.
b. Biaya Non Operasi
biaya ini merupakan biaya di luar operassi, termasuk pos-pos luar biasa

III. LAPORAN ARUS KAS
Informasi tentang arus kas suatu perusahaan berguna bagi para pemakai llaporan keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan menilai kebutuhan perusahaan untuk menggunakan arus kas tersebut. Dalam proses pengambilan keputusan ekonomi para pemakai perlu melakukan evaluasi terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kepastian perolehannya.

PERANAN DAN FUNGSI ANALISIS KEUANGAN BAGI PERUSAHAAN
Tujuan :
Analisa laporan keuangan menyangkut pemakaian dari laporan keungan.
Laporan ini berusahan memberikan beberapa hal.
Pertama : laporan ini memberikan gambaran aktiva dan kewajiban perusahaan
pada suatu saat tertentu, biasanya pada akhir tahun atau kwartal. Gambaran
ini dikenal sebagai neraca.
Disamping itu Laporan Rugi Laba memberikan gambaran pendapatan, biaya biaya,
pajak dan keuntungan dari perusahaan untuk suatu jangka waktu tertentu biasanya satu tahun atau kwartal.
Jika neraca menggambarkan potret posisi keuangan pada satu saat. Laporan Rugi Laba menggambarkan keuntungan selama jangka waktu tertentu.
Dari laporan – laporan ini beberapa informasi dapat ditarik seperti Laporan
laba yang ditahan dan laporan sumber dan pemakaian dana.

Pendekatan :
 Mengapa analisa laporan keuangan penting ?
 Teknik apa saja yang tersedia untuk melakukan analisa terhadap
laporan keuangan ?
 Apa yang dimaksid dengan analisa horizontal dan vertikal ?
 Bagaimana dan untuk apa analisa ratio yang ada dihitung dan
dipergunakan ?
 Bagaimana dan untuk apa analisa prosentase dihitung dan
dipergunakan ?
 Bagaimana dan untuk apa analisa per saham dihitung dan
dipergunakan ?

Pentingnya Analsa Laporan keuangan :
Laporan keuangan yang disususn oleh suatu perusahaan itu pada pokoknya
ditujukan kepada pihak – pihak diluar perusahaan, sehingga yang
bersanggkutan dapat menggunakannya sebagai dasar pengambilan keputusan
mengenai perusahaan tadi. Pada umumnya pihak – pihak yang mempunyai
kepentingan terhadap perusahaan tersebut, perlu melakukan analisa – analisa
tertentu terhadap laporan agar dapat memperoleh informasi yang diperlukan,
bahkan kadang – kadang perusahaan sudah menyajikan analisa-analsa tadi.
Analisa-analisa tersebut penting, oleh karena hanya dengan melihat laopran
keuangan itu saja akan tidak dapat diketahui kekuatan dan kelemahan suatu
perusahaan.
Laporan keuangan terdiri dari laporan posisi keuangan atau neraca dan
laporan hasil prestasi operasi atau laporan laba rugi, disamping itu ada satu
jenis laporan keuangan yang lainnya yaitu laporan Sumber Dana atau Laporan
Arus Dana dalam perusahaan.
Bagi pemegang saham (pemilik perusahaan), laporan keuangan penting untuk
melihat posisi “Rentabilitas atau Profitabilitas” yaitu kemampuan Manajemen
Perusahaan untuk menghasilkan Laba.
Bagi kreditur laporan keuangan mempunyai kegunaan untuk melihat posisi
likuiditas perusahaan, yaitu kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajiban – kewajiban jangka pendeknya.
Bagi penguasa negara (pemerintah) laporan keuangan perusahaan mempunyai
kegunaan untuk menentukan besarnya pajak perseroan (penghasilan) yang
akan ditarik.
Bagi manajemen perusahaan yang bersangkutan, laporan keuangan mempunyai
kegunaan untuk menilai hasil kerja manajemen, baik dipandang dari sudut likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, maupun aktivitas.
Bagi karyawan, laporan keuangan mempunyai kegunaan untuk perbaikan nasib
hidupnya.

Prosedur Analisa Keuangan :
Analisa keuangan pada hakekatnya adalah mencari hubungan yang ada antara suatu angka dalam laporan keuangan dengan angka lain sehingga dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai keadaan keuangan dan hasil usaha perusahaan. Angka – angka dalam laoprantadi akan tidak banyak artinya apabila dilihat secara sendiri – sendiri.

Hubungan satu angka lainnya dalam analisa keuangan dapat dilakukan :
 Diantara pos – pos yang terdapat dalam laopran keuangan untuk satu tahun tertentu.
 Diantara pos – pos yang terdapat dalam suatu laporan keuanan dengan pos-pos yang sama dalam laporan keuangan sebelumnya.
 Diantara pos – pos yang terdapat dalam laporan keunagan dengan pos – pos yang sama dalam laporan keunagan perusahaan perusahaan lain atau angka – angka dari perusahaan lainnya.

Analisa laporan keuangan dapat dinyatakan dalam bentuk :
 Ratio.
 Prosentase.
 Angka per saham.

Analisa Horizontal :
Analisa prosentase yang dilakukan dengan membandingkan suatu pos dalam laporan keuangan dengan pos yang sama pada laporan keuangan sebelumnya disebut dengan analisa horizontal.

Analisa Vertikal :
Kalau Analisa Horizontal membandingkan pos – pos yang sama dalam laporan keuangan untuk beberapa tahun yang disajikan secara beruntun, analisa vertikal membandingkan pos – pos yang terdapat dalam sebuah laporan keuangan dengan pos lain yang dijadikan sebagai dasar dalam laporan keuangan yang sama. Angka yang dijadikan sebagai dasar dapat total harta untuk pos-pos harta, total hutang dan modal untuk pos-pos hutang dan modal serta total penjualan bersih untuk pos – pos perhitungan rugi laba.

Macam analisa keuangan :
Masing – masing analisa mempunyai tujuan atau kegunaan berbeda dan menunjukan hubungan yang berbeda pula.
Analisa keuangan pada umumnya digolongkan menjadi beberapa kategori
sesuai dengan hal yang hendak diukur dalam perusahaan. Kategori – kategori
itu adalah :
1. Ratio likuiditas yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi hutang – hutang jangka pendeknya yang jatuh tempo. Ratio ini membandingkan antara harta lancar dan hutang lancar. Bila harta lancar lebih besar daripada hutang lancar, disebut “likuid” dan sebaliknya disebut “ilikuid” atau tidak mampu.

Ratio ini dibagi lagi menjadi beberapa jenis ratio yakni :
a. Current Ratio :
Kemampuan membayar hutang yang jatuh tempo atau setiap rupiah hutang lancar dijamin oleh harta lancar.
Teknik perhitungannya :
Harta Lancar
Hutang Lancar x 100 %
b. Acid Test Ratio atau Quick Ratio
Kemampuan membayar hutang yang jatuh tempo dengan harta lancar
yang lebih likuid.
Teknik perhitungannya :
Kas + Surat Berharga + Piutang
Hutang Lancar x 100 %
c. Cash Ratio
Kemampuan membayar hutang lancar yang jatuh tempo dengan kas dan surat – surat berharga yang mudah dipasarkan.
Teknik perhitungannya :
Kas + Surat Berharga
Hutang lancar x 100 %
d. Working Capital Ratio
Perimbangan harta lancar kualitatif dengan total harta, dimana harta lancar kualitatif itu adalah modal kerja netto atau likuiditas total harta terhadap modal kerja.

Teknik perhitungannya :
Harta Lancar – Hutang Lancar
Total Harta x 100 %

2. Ratio Solvalitas :

Ratio ini menunjukan kemampuan perusahaan memenuhi seluruh kewajiban – kewajibannya pada saat perusahaan di likuidasi. Ini berarti bahwa perusahaan mempunyai harta yang cukup untuk memenuhi total tuntutan dari pihak ke III (claim)

Ratio Solvabilitas meliputi :
a. Debt Ratio
Bagian dari kekayaan perusahaan yang dibiayai dengan hutang bagian kekayaan perusahaan yang di claim oleh hutang atau setiap rupiah harta perusahaan yang digunakan untuk menjamin hutang.
Teknik perhitungannya :
Hutang Jangka Pendek + Hutang Jangka Panjang
Total Harta x 100 %
b. Equity Ratio
Bagian kekayaan perusahaan yang dibiayai oleh modal sendiri atau perbandingan modal sendiri dengan total kekayaan perusahaan.
Teknik perhitungannya :
Modal
Total Harta x 100 %
c. Long Term Debt to Equity Ratio
Bagian setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan terhadap hutang jangka panjang.
Teknik perhitungannya :
Hutang Jangka Panjang
Modal Sendiri x 100 %
d. Total Debt to Equity Ratio
Bagian setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan seluruh hutang perusahaan.
Teknik perhitungannya :
Hutang Jangka Pendek x Hutang Jangka Panjang
Modal Sendiri x 100 %
e. Tangible Assets Debt Coverage
Besarnya harta tetap berwujud yang digunakan untuk menjamin hutang jangka panjang atau setiap rupiah hutang jangka panjang dijamin oleh harta setiap perusahaan.
Teknik perhitungannya :
Jml Harta – Inteangible Fixed Assets – Hrt Lancar – Hut. Lancar
Hutang Jangka Panjang x 100 %
f. Time Interest Earned Ratio
Besarnya jaminan laba operasi yang digunakan untuk menjamin beban bunga hutang jangka panjang atau setiap rupiah bunga hutang jangka panjang dijamin oleh laba operasi.
Teknik perhitungannya :
EBIT
Interest x 100 %
g. Fixed Charge Coverade
Perbandingan laba dengan beban tetap adalah sama dengan perbandingan laba dengan bunga, tetapi ini lebih luas karena kenyataannya banyak perusahaan yang menyewa harta (misalnya : menyewa kantor) yang berarti memiliki kewajiban jangka panjang berdasarkan kontrak sewa (leasing). Pada umumnya kontrak sewa jangka panjang setiap tiga tahun.
Sewa berdasarkan satu tahun tidak dimasukan kedalam perbandingan laba dengan beban tetap.
Teknik perhitungannya :
Laba Sblm Pajak + Bunga + Biaya Sewa
Beban Bunga + Biaya Sewa
h. Cash Flow Coverage
Jika suatu perusahaan mempunyai saham preferent yang harus dibayar devident tetap dan harus membayar cicilan hutang jangka panjang serta perusahaan menyisihkan dana penyusutan, maka cakupan arus cash atau cash flow coverage perusahaan adalah :
Teknik perhitungannya :
Laba Sblm Pjk + By Bunga + By Sewa + Penyusutan Aktiva
By Bunga + By Sewa + Devident Shm Preferent + Cicilan Hut. Jk. Pjg

3. Ratio Profitabilitas (Rentabilitas)
Ratio Profitabilitas merupakan ratio hasil operasi perusahaan. Ratio ini dapat disajikan secara vertikal yang menunjukan saling hubungan antara laba dengan penjualan maupun secara membandingkan antara laporan rugi – laba dengan neraca.

Ratio Profitabilitas atau Rentabilitas terdiri dari :
a. Gross Profit Margin :
Besarnya laba kotor atas penjualan dibanding dengan penjualan. Jika penjualan naik pada biaya harga pokok penjualan yang tetap, maka ratio ini membaik. Ratio ini ditentukan oleh perubahan harga pasar, volume penjualan, dan perubahan biaya produksi.
Teknik perhitungannya :
Laba Kotor Atas Penjualan
Penjualan Bersih x 100 %
b. Operating Profit Margin :
Besarnya laba operasi perusahaan dibanding dengan penjualan bersih. Ratio ini dipengaruhi oleh perubahan harga pasar, volume penjualan, biaya produksi per unit dan perubahan biaya usaha.
Teknik perhitungannya :
Laba Operasi
Penjualan Bersih x 100 %
c. Net Proft Margin :
Besarnya laba bersih perusahaan atau earning after tax dibanding dengan pejualan bersih. Ratio ini dipengaruhi oleh perubahan harga pasar, volume penjualan, biaya produksi per unit, biaya usaha, bunga dan tingkat pajak perseroan (pajak keuntungan atau pajak penghasilan).
Teknik perhitungannya :
Laba Bersih atau EAT
Penjualan Bersih x 100 %
d. Return on Investment (ROI) :
ROI atau laba atas total harta atau return on total assets adalah ratio laba bersih terhadap total harta mengukur tingkat laba terhadap total investasi perusahaan (ROI).
Dalam perhitungan laba atas total harta, kadang – kadang perlu menambah biaya bunga pada laba netto setelah pajak sebagai pembilang pada ratio tersebut. Teorinya adalah karena harta dibiayai oleh pemegang saham dan kreditur. Ratio tersebut harus mengukur
produktivitas harta dalam penyediaan imbalan untuk kedua kelompok investor tersebut.
Bila kita membicarakan pengambilan keputusan atas leverage, kita akan menambahkan kembali biaya bunga. Tambahan ini mempunyai arti penting terutama untuk rasio – rasio perusahaan utilities (yang sebagian harta tetapnya dibiayai dengan hutang) dan secara teknis inilah yang benar dan umum digunakan bagi perusahaan jenis tersebut.
Ratio ini juga disebut “Rentabilitas Ekonomis”. Ratio ini menunjukan besarnya laba bersih yang diperoleh dari seluruh modal perusahaan.
Teknik perhitungannya :
Laba Bersih
Total Harta x 100 %
e. Return on Equity (ROE) :
Besarnya laba bersih perusahaan dibanding dengan total modal sendiri.
Ratio ini dipengaruhi oleh perubahan modal saham, surplus modal (Agio Sero), laba ditahan dan perubahan laba bersih. Ratio ini juga disebut rentabilitas usaha atau rentabilitas modal sendiri.
Ratio ini menunjukan besarnya laba bersih yang diperoleh dari setiap rupiah modal sendiri yang ditanam dalam perusahaan.
Teknik perhitungannya :
Laba Bersih
Modal Sendiri x 100 %

4. Ratio Aktivitas
Ratio ini mengukur efektifnya perusahaan dalam menggunakan sumber daya perusahaan. Ratio ini mencerminkan perbandingan antara penjualan dengan berbagai investasi dalam harta. Rincian ratio ini adalah sebagai berikut :
a. Assets Turn Over
Kemampuan jumlah harta (kekayaan) menghasilkan penjualan bersih.
Makin tinggi perputaran jumlah harta berarti makin baik.
Teknik perhitungannya :
Penjualan Bersih
Jumlah Harta = ….. kali
b. Fixed Assets Turn Over
Kemampuan harta tetap bersih perusahaan menghasilkan penjualan bersih.
Teknik perhitungannya :
Penjualan Bersih
Jumlah Harta Tetap Bersih = ….. kali
c. Working Capital Turn Over
Kemampuan modal kerja menghasilkan penjualan bersih. Yang dimaksud dengan modal kerja disini adalah selisih antara harta lancar atas hutang lancar.
Teknik perhitungannya :
Penjualan Bersih
Harta Lancar – Hutang Lancar = ….. kali
d. Accounts Receivable Turn Over
Perputaran piutang, yakni realisasi term of sales perusahaan atau hubungan penjualan bersih dengan rata – rata piutang perusahaan.
Teknik perhitungannya :
Penjualan bersih
Rata-rata piutang = ….. kali
Penjualan dan piutang memiliki hubungan yang erat sekali, maka menganalisa hubungan besarnya piutang dalam periode pengumpulannya (penagihannya) adalah sangat penting, karena makin lama uang atau modal kita tertanam dalam piutang adalah kurang baik. Saling hubungan antara piutang dengan waktu penagihannya dinyata dalam “Average Collection Period”.
Teknik perhitungannya :
360 hari
Accounts Receivable Turn Over = ….. hari
Atau ;
Penjualan per hari = Penjualan Bersih = ….. rupiah
360
Average Collection Period = Piutang = ….. hari
Penjualan per hari
e. Inventory Turn Over
Perputaran persediaan diartikan sebagai penjualan dibagi rata-rata persediaan.

Inventory turn over terdiri dari :
1. Raw Material Turn Over :
Cost of Raw Material Used
Averange Raw Material Inventory = ….. kali
2. Work in Process Turn Over :
Cost of Goods Manufactured
Average Work in Process Inventory = ….. kali
3. Finished Goods Turn Over
Cost of Goods Sold
Average Finished Goods Inventory = ….. kali
4. Growth Ratio
Analisa pertumbuhan mengukur bagaimana sebaiknya perusahaan
memelihara posisi ekonominya dalam perekonomian secara
keseluruhan dan dalam induntri sejenis.

5. Ratio Penilaian (Valuation Ratio)
Ratio penilaian adalah ukuran yang paling lengkap dari kemajuan
perusahaan, karena merupakan gabungan dari “risk and return
ratio”.
Dua ratio penilaian adalah :
a. Price Earning Ratio (harga atas ratio laba)
Perbandingan harga saham di pasar bursa dengan pendapatan
persaham.
Teknik perhitungannya :
Price per Share
Earning per Share x 100 %
b. Price Book Value (harga pasar atas nilai buku)
Perbandingan harga saham di pasar bursa dengan nilai buku per
saham.
Teknik perhitungannya :
Price per share
Book value per share x 100 %

Analisa pengungkit
Analisa pengungkit mengukur perbandingan antara dana yang disediakan
pemilik dengan pembiayaan yang diperoleh dari para kreditur, mempunyai
sejumlah implikasi.
Pertama, kreditur akan melihat kepada kekayaan pemilik (equity), atau dana
yang disediakan oleh pemilik, untuk memperoleh suatu batas pengaman
(margin of safety), baginya bila.
Bila pemilik hanya memberikan sebagian kecil dari total pembiayaan, maka
resiko perusahaan sebagian besar ditanggung oleh kreditur.
Kedua, dengan menambah dana melalui pinjaman, pemilik akan memperoleh
manfaat, dalam hal tetap dapat dipertahankannya kontrol terhadap perusahaan dengan investasi yang terbatas.
Ketiga, bila hasil dana yang diperoleh dari pinjaman lebih besar daripada bunga yang harus dibayar, maka pengembalian kepada pemilik akan berlipat.
Misalnya, bila harta dapat menghasilkan 6 %, sedangkan biaya pinjaman hanya
4 %, maka perbedaan sebesar 2 % akan jatuh kepada pemegang saham.
Tetapi Leverage dapat merupakan pedang bermata dua. Bila pengembalian atas harta jatuh menjadi 3 %, maka perbedaan antara angka tersebut dengan biaya pinjaman harus ditutup oleh bagian laba yang menjadi hak pemegang
saham.

Analisa pengungkit yang digunakan pada umumnya adalah :
1. Ratio hutang terhadap harta (debt ratio).
2. Times interst earned.
3. Ratio harta tetap terhadap hutang jangka panjang.
Teknik perhitungannya :
1. Ratio Hutang terhadap Harta :
Total Hutang
Total Harta x 100 %
2. Times Interst Earned :
Laba Sebelum Bunga dan Pajak
Biaya Bunga
3. Ratio Harta terhadap Hutang Jangka Panjang :
harta tetap (bersih)
hutang jangka panjang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>