Anggaran Biaya Variabel

ANGGARAN BIAYA VARIABEL

 

Pengertian :

Suatu perencanaan mengenai skedul biaya yang menunjukkan bagaimana tiap-tiap biaya akan berubah sehubungan dengan perubahan tingkat kegiatan untuk waktu yang akan datang dalam relevant range tertentu.

Prinsip dasar dari anggaran variabel adalah konsep variabilitas biaya dimana biaya dapat dihubungkan dengan tingkat kegiatan. Atas dasar konsep inilah biaya dapat dikatagorikan menjadi biaya tetap, biaya variabel dan biaya semi variabel. Anggaran variabel mengidentifikasikan masing-masing jenis biaya karena perubahan tingkat kegiatan perusahaan yang bersangkutan.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan anggaran variabel :

1.     Penentuan Satuan kegiatan

Tingkat kegiatan dalam suatu perusahaan harus dinyatakan dalam satuan kegiatan (activity base), misalnya :

-        Jam mesin langsung (direct machine hour/ DMH)

-        Jam Kerja Langsung (direct labor hour/ DLH)

-        Jam Reparasi Langsung (direct Repair Hour/ DRH)

-        Kilo Watt per Jam (Kilo Watt per hour)

 

2.     Penentuan Relevant Range

Relevant range adalah suatu interval yang dinyatakan dengan tingkat output tertentu, dimana anggaran variabel yang bersangkutan masih dapat dipakai atau masih berlaku. Relevant range perlu ditentukan karena biaya tetap dan biaya variabel perunit dapat berubah pada tingkat output tertentu.

 

Metode Pemisahan Komponen Fixed dan Variabel :

  1. Metode Langsung, yaitu didasarkan atas hasil penelitian di pabrik atau atas dasar analisis terhadap data historis yang dilengkapi dengan interpretasi keputusan manajemen yang ada kaitannya dengan data historis yang bersangkutan.

 

  1. Metode Titik Tertinggi dan Titik Terendah (high and Low Point Method), yaitu dengan cara memisahkan komponen biaya tetap dan variabel dengan perhitungan interpolasi diantara dua macam volume output atau tingkat kegiatan yang berbeda.

Contoh :

 

-        Relevant range : 9.000 – 12.000 DMH, artinya :

  • Pada titik tertinggi  = 12.000 DMH
  • Pada titik terendah =   9.000 DMH

 

-        Anggaran Biaya :

  • Pada titik tertinggi  =  Rp. 6.400.000,-
  • Pada titik terendah =  Rp. 5.200.000,-

 

-        Interpolasi :

  • Menghitung biaya variabel perunit :

DMH                Biaya

Pada titik tertinggi                 12.000             Rp. 6.400.000,-

Pada titik terrendah                9.000             Rp. 5.200.000,-

Selisih                                       3.000              Rp. 1.200.000,-

 

-        Biaya variabel perunit  =  Rp. 1.200.000,-     =     Rp. 400,-

3.000

 

Menghitung biaya tetap, pada titik tertinggi :

 

  • Anggaran biaya                                       =  Rp. 6.400.000,-
  • Anggaran Variabel = 12.000 x Rp.400,-  =  Rp. 4.800.000,-

Biaya tetap                                            =  Rp. 1.600.000,-

 

  1. Metode Statistika, yaitu dengan menggunakan regresi linier. Analisis ini menghubungkan data biaya dengan output dari waktu ke waktu yang lalu, sehingga dapat diketahui bagaimana biaya-biaya akan berubah sehubungan dengan perubahan volume output berdasarkan persamaan yang terbentuk. Hasil taksiran yang diperoleh dapat dijadikan dasar perkiraan pada waktu yang akan datang dalam kaitannya dengan hubungan perubahan volume dengan perubahan biaya.

 

———ooo———

Referensi :  Ellen Christina, at.all, “Anggaran Perusahaan suatu Pendekatan Praktis”, PT. Gramedia Utama, Jakarta, 2002.

Anggaran Bahan Baku

Anggaran Bahan Baku

1. Budget Kebutuhan Bahan Baku

Pengertian   Budget   ini   ialah:   Budget   yang   merencanakan   secara   lebih terperinci jumlah unit bahan mentah yang diperlukan untuk penyelenggaraan proses produksi secara periode yang akan datang, sebagai dasar untuk penyusunan budget  pembelian bahan mentah dan budget biaya bahan mentah.

Adapun bahan baku yang dipakai dalam suatu pabrik secara tradisional dibagi menjadi   bahan   langsung   dan   bahan  tak   langsung   (bahan  pembantu).   Bahan langsung  pada  umumnya  menyatakan  semua  bahan  baku  yang  menjadi  bagian terpadu dari produksi jadi dan dapat ditetapkan langsung  pada  harga  pokok  produk barang jadi.

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam penyusunannya, yaitu:

1)  Budget  unit  yang diproduksi, khususnya tentang kualitas, kuantitas barang yang

akan diproduksi dari waktu ke waktu selama periode yang akan datang.

2)  Berbagai  standar  pemakaian  bahan  dari  masing-masing jenis bahan  mentah

untuk  proses produksi yang telah ditetapkan perusahaan, yaitu :

a)   Berdasarkan data historis (pengalaman masa lalu), dengan cara membandingkan  jumlah  produk  pada  suatu  periode  dengan  jumlah  bahan  mentah   yang   dipergunakan   pada   periode   yang   sama.   Tetapi   apabila pengalaman  yang  lalu merupakan pengalaman yang kurang menguntungkan  (terjadi  pemborosan  bahan mentah) maka standar pemakaian bahan mentah  untuk periode yang akan datang merupakan standar yang paling ideal.

b)  Berdasarkan  pada penelitian khusus, yang dilakukan dengan mengukur serta

meneliti beberapa produk barang jadi yang dihasilkan perusahaan, mengadakan penelitian laboratoris seperti produk obat-obatan,  kosmetik  dan  minuman,  dan  mengadakan  percobaan  proses  produksi  sambil  mengukur serta   menghitung jumlah unit bahan mentah yang digunakan   selama percobaan tersebut berlangung.

 

2. Budget Pembelian Bahan Baku

Adalah budget yang merencanakan secara lebih terperinci tentang pembelian- pembelian bahan mentah selama periode yang akan datang, yang berguna secara khusus  sebagai dasar untuk penyusunan budget biaya bahan mentah, penyusunan budget utang dan budget kas.

Adapun faktor-faktor  yang  mempengaruhi penyusunan budget pembelian bahan mentah ialah :

a)  Budget  unit kebutuhan bahan  mentah, khususnya rencana tentang  jenis (kualitas) dan jumlah (kuantitas) bahan mentah yang dibutuhkan dari waktu ke waktu selama periode yang akan datang.

b)  Biaya-biaya yang harus ditanggung oleh  perusahaan  pada  setiap  melakukan  pembelian bahan mentah (set up cost). Bila setiap  kali  melakukan  pembelian bahan  mentah,  biayanya  terlalu besar,  akan  mendorong  perusahaan  untuk tidak   sering   melakukan   transaksi   pembelian   bahan   mentah,   begitu   juga sebaliknya  sehingga  perusahaan  akan  melakukan  pembelian  dalam  jumlah   yang kecil.

c)   Biaya  yang  dianggap  oleh  perusahaan  sehubungan  penyimpanan  barang  di gudang. Bila biaya-biaya dan resiko penyimpanan yang harus ditanggung cukup mahal maka akan mendorong perusahaan untuk mempunyai persediaan bahan mentah dalam jumlah yang kecil dan apabila biayanya kecil akan  mendorong perusahaan melakukan penyimpanan dalam jumlah yang besar.

d)  Fluktuasi harga bahan mentah dari waktu-waktu yang  akan  datang.  Bila  ada kecendrungan   harga   bahan   mentah   naik   akan   mendorong    perusahaan melakukan  pembelian  dalam  jumlah  yang  besar  dan  bila  harga  cenderung murah maka perusahaan akan mengurangi pembelian.

e)   Tersedianya   bahan   mentah   di  pasar.  Bilamana  bahan  mentah  tidak  selalu tersedia  dalam  jumlah  yang  tidak  banyak  di  pasar  maka  cenderung  akan  mendorong  pembelian  yang  besar,  dan jika persediaan bahan mentah sedikit  maka perusahaan akan melakukan pembelian dalam jumlah yang kecil.

f)   Modal ketja yang tersedia. Bilamana perusahaan mempunyai modal yang cukup akan  memberikan  kemungkinan untuk melakukan pembelian-pembelian bahan mentah dalam jumlah yang sangat besar, begitu juga sebaliknya.

g)
Kebijaksanaan   perusahaan  di  bidang  persediaan  bahan  mentah  (inventory policy).  Bila  persediaan  bahan  mentah yang ditetapkan oleh perusahaan besar akan  mendorong  pembelian  bahan  mentah  juga  dalam  jumlah  yang  besar. Kebijaksanaan  di bidang persediaan bahan mentah dipengaruhi oleh beberapa  faktor pertimbangan:

1. Fluktuasi Produksi

2. Fasilitas tempat penyimpanan

3. Biaya-biaya yang timbul selama masa penyimpanan

4. Tingkat perputaran persediaan bahan mentah

5. Lamanya lead time (waktu tunggu)

6. Modal ketja

Pendekatan  yang  terkenal  untuk  menghitung  kuantitas  pesanan  ekonomi (EOQ) menggunakan rumus berikut ini: EOQ= √(2AO) / C

A = Kuantitas yang dipergunakan dalam setahun (unit)

O = Biaya rata-rata tahunan untuk menempatkan pesanan

C  =  Biaya  penyimpanan  tahunan  untuk  menyimpan  satu  unit  dalam  persediaan selama  satu  tahun  (misalnya,  penyimpanan,  asuransi,  laba  atas  investasi  dalam persediaan)

 

3. Budget Biaya Bahan Baku

Adalah  Budget  yang  merencanakan  secara  lebih  terperinci  tentang  biaya   bahan mentah untuk produksi selama periode yang akan datang, meliputi rencana  kualitas,  kuantitas, harga, waktu, bahan mentah dikaitkan dengan jenis barang jadi yang membutuhkan bahan mentah tersebut.

Budget biaya bahan mentah berguna sebagai dasar penyusunan budget harga pokok  produksi,  budget  harga  pokok  penjualan  yang  tercantum  dalam  master income statement budget bersama dengan budget upah  tenaga  kerja  langsung  dan budget biaya pabrik tidak langsung.

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam  penyusunan  budget  biaya bahan mentah antara lain:

a)  Budget unit kebutuhan bahan mentah

b)  Budget pembelian bahan mentah

c)   Metode Akuntansi (pembukuan bahan mentah) yang dipakai oleh  perusahaan, khususnya  yang  berhubungan  dengan  masalah  penilaian  bahan  mentah  yang diolah  dalam  proses  produksi.  Adapun  metode  pembukuan  bahan  mentah  itu ialah:

1.  Metode FIFO (First In First Out)

Dalam  metode  ini,  nilai  (harga)  dan  bahan  mentah  yang  diolah  lebih  awal didasarkan  pada  nilai  (harga)  bahan  mentah yang dibeli lebih awal, begitu juga  sebaliknya.

2.  Metode LIFO (Last In First out)

Nilai (harga) dan bahan mentah yang  diolah  lebih  awal  didasarkan  pada  nilai (harga) bahan mentah yang dibeli lebih akhir, demikianjuga sebaliknya.

3.  Moving Average

Yaitu   metode   yang   menganggap   nilai   (harga)   bahan   mentah   yang   diolah berdasarkan   nilai  (harga)  rata-rata  pembelian  bahan  mentah  yang  pernah   dilakukan oleh perusahaan sejak awal sampai dengan yang terakhir.

 

 

Sumber  :  Dra.NARUMONDANG BULAN SIREGAR MM Fakultas Ekonomi

Jurusan Akuntansi

Universitas Sumatera Utara

 

Anggaran Tenaga kerja Langsung

Anggaran Tenaga Kerja Langsung

1. Penyusunan Anggaran Tenaga Kerja

Secara  struktural,  anggaran  tenaga  kerja   harus   sesuai   dengan   struktur rencana tahunan, oleh karena itu anggaran ini harus menunjukkan  biaya  dan  jam  kerja  langsung  menurut  tanggung  jawab,  menurut  waktu,  dan  menurut  produk. Apabila  waktu  kerja  standar  dan tarif upah rata-rata dikembangkan dengan cara yang  sehat  yang  mungkin  dapat  diterapkan  sehingga  penyusunan  budget  tenaga  kerja dapat dengan mudah dilaksanakan.

Biaya kerja langsung sehari-hari terlepas dari  pengawasan  langsung.  Banyak perusahaan   mengembangkan standar-standar  kerja  yang  realistis  untuk banyak aktivitas. Standar ini dibandingkan dengan hasil  sebenarnya  dan  dilaporkan  setiap hari.

Laporan ini pada dasarnya menunjukkan:

1. Jam yang dikerjakan sebenarnya

2. Jam standar untuk produksi sebenarnya

3. Selisih waktu

Disamping   biaya   kerja   langsung  sehari-hari,  kadang  laporan  juga  dibuat bulanan.  Di  dalam  laporan  ini  harus  menyajikan  imformasi  yang  sebenarnya, menurut  tanggung  jawab  mengenai  kerja  langsung  yang  dibandingkan  dengan   standart-standart yang telah ditetapkan. Laporan ini dimaksudkan manajemen untuk menilai status pengendalian. Laporan ini menggugah manajemen  untuk  melakukan  efisiensi  operasi  yang  lebih  tinggi.  Laporan  pelaksanaan  kerja  langsung  dapat   berupa:

1. Laporan-laporan tersendiri  2. Dimasukkan dalam laporan departemen

2. Perencanaan Upah Tenaga Kerja Langsung

Pada dasarnya Budget tenaga kerja sangat berhubungan erat dengan rencana laba tahunan, mengingat upah tenaga kerja merupakan pas biaya yang paling besar jika dibandingkan dengan biaya lainnya. Budget tenaga kerja harus  dikembangkan  menurut jam kerja langsung dan biaya kerja langsung dan juga harus dikembangkan menurut   tanggung  jawab  dan  menurut  priode  antara,  hal,  ini  penting  untuk penaksiran biaya produksi tiap produk. Banyak  perusahaan mengembangkan  label- label   tenaga   kerja   sebagai   cara   untuk   membantu   dalam   merencanakan dan mengendalikan  seluruh upah tenaga kerja. Dan perusahaan juga harus menetapkan  sistem upah yang digunakan, dibawah ini ada beberapa sistem upah, yaitu:

1. Sistem upah harian

2. Sistem upah perpotong

3. Sistem upah bonus

 

Berdasarkan sistem upah harian tiap karyawan diberi suatu jumlah untuk satu hari  kerja. Satu jumlah jam kerja tertentu biasanya terdiri hari standart dan oleh karena  sistem  upah  harian  sama  dengan  sistem  upah  per  jam.  Sistem  upah perpotong   berdasarkan   jumlah   upah   dari  pada   jumlah   barang   produksi  yang diproduksi karena menurut teori karyawan harus dibayar menurut  hasil  kerja  nyata. Dalam   sistem   upah   bonus   setiap   karyawan   dibayar   secara   harian   didalam memproduksi  sejumlah  minimum  tertentu,  dan  untuk  jumlah  diatas  minimum   karyawan menerima tambahan kompensasi berupa bonus yang biasanya  menurut  jumlah  potongannya.  Dari  penjelasan  dari  sistem  upah  ini,  jelaslah  sistem  upah  perpotonglah yang sesuai dengan atau untuk budget tenaga kerja.

Disamping  mengenai  sistem  upah,  laporan  produksi  yang  dibuat  didalam  pabrik  harus  menunjukkan  dan  menggambarkan  banyaknya  jumlah  barang  yang  diproduksi  atau  unit  yang  diproduksi  dalam  satu  hari  atau  jam.  Dalam  laporan  tenaga kerja harus menunjukan ongkos tenaga kerja produk  itu,  sehingga  ongkos persatuan  tenaga  kerja  dapat  dengan  segera  ditentukan.  Namun  perlu  diketahui bahwa dalam penyusunan Budget tenaga kerja perlulah kiranya kita membuat suatu perencanaan  waktu  kerja  standart.  Di dalam perencanaan waktu kerja standart ada  empat macam rancangan yang umum digunakan, diantaranya adalah:

1.  Studi-studi waktu dan gerak

Di   dalam   studi   ini   di   analisa   kerja   yang   dibutuhkan   suatu   produk   (per departemen)   dengan   memperinci   sederetan   operasi   atau   aktivitas.   Pada umumnya  analisa  ini  dilakukan  oleh  para insinyur. Hasil dari analisa ini dapat digunakan  sebagai  dasar input dasar guna pengembangan kebutuhan-kebutuhan jam    kerja    langsung    untuk    memenuhi    kebutuhan    produksi    yang    telah direncanakan.  Studi  ini  umumnya  merupakan  pendekatan  kearah  penetapan   waktu kerja standart

2.  Biaya standart

Penelahaan   seksama   jam   kerja   langsung   pada   dasarnya   harus   dilakukan mengingat  didalam  akuntansi  biaya  digunakan  biaya-biaya  standart.  Didalam  biaya standart, penyimpangan-penyimpangan pasti terjadi.  Dan  penyimpangan  tersebut harus dibudgettir dari jam-jam kerja standart yang dimasukkan  dalam  rencana laba tahunan.

3.  Penaksiran langsung oleh pengawas

Untuk melakukan penaksiran ini pengawas harus bertumpu pada:

a. Pertimbangan

b. Pelaksanaan oleh departemen yang dilaporkan dari priode berjalan

c. Bantuan dari pengawas.

4.  Taksiran-taksiran statistik oleh kelompok staf

Pendekatan ini sering digunakan untuk departemen  produksi  yang  menghasilkan  produk lebih dari satu Rasio historis jam kerja langsung terhadap sesuatu ukuran produksi fisik dihitung dan kemudian  disesuaikan  dengan  perobahan-perobahan yang direncanakan dalam pusat tanggung jawab  itu.  Kebenaran  perhitungan  ini tergantung  pada  kebenaran catatan-catatan biaya. Kelemahan metode ini ialah  pemborosan-pemborosan diwaktu lalu diproyektir kewaktu akan datang.

Dari   rancangan   diatas,   walaupun   suatu   metode    praktis    untuk    suatu departemen  belum  tentu  praktis  untuk  departemen  lain.  Jadi  prosedur-prosedur perlu   diperbaiki   terus   menerus   dan   prosedur   baru   yang   lebih   praktis   harus digunakan.

 

3. Tarif tenaga kerja langsung

Jika mungkin untuk mengaitkan jumlah produksi dengan jam kerja langsung dan terhadap rencana tarif upah untuk tiap departemen produksi, maka perhitungan biaya  kerja  langsung  hanya  menyangkut  perkalian  satuan  dengan  yang  lainnya. Dalam suatu perusahaan tertentu mungkin terdapat satu departemen  produksi  atau  lebih dimana pendekatan langsung ini lebih praktis penggunaannya.

Penentuan  tarif upah langsung rata-rata dalam suatu departemen produksi atau  pusat  biaya  tertentu biasanya tidak menimbulkan suatu problema yang gawat. Ancangan demikian yang dipilih menaksir tarif-tarif dengan jalan menghitung tenaga kerja langsung di departemen ini dan tarif upah mereka yang diharapkan. Kemudian menghitung rata-ratanya.

Suatu  pendekatan  yang  kurang  cermat  terhadap  suatu  penentuan  rasio historis antara upah yang dibayar dengan jam kerja langsung yang dikerjakan  di departemen produksi. Rasio historis ini kemudian disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang  telah  berubah  atau  memang diharapkan berubah. Perlu dipahami, bahwa upah rata-rata  yang  didasarkan  pada  data  historis  hanya  berguna  untuk  perencanaan  waktu yang akan datang apabila terdapat konsistensi-konsistensi dalam aktivitas dan jam-jam yang dikerjakan ditetapkan dengan tarif yang berbeda.

Dalam   beberapa   hal,   besar   departemen,   diversivitas   pekerjaannya,   dan variasi-variasi  dalam  upah  per  jam dapat berbeda, sehingga departemen ini harus dibagi lebih lanjut menjadi pusat-pusat biaya. Kemudian untuk rnasing-masing pusat biaya harus direncanakan taksiran kerja langsung dan tarifupah rata-rata tersendiri. Jika departemen akuntansi biaya menggunakan sistem harga pokok standart, maka  tarif  upah  standart  yang  digunakan untuk hal ini (penyusunan budget tenaga  kerja)  akan  tetapi  kita  perlu membudgetir selisih-selisih tarif upah tertentu antara kelonggaran-kelonggaran perencanaan budget.

 

 

Sumber  : Dra.NARUMONDANG BULAN SIREGAR MM Fakultas Ekonomi

Jurusan Akuntansi Universitas Sumatera Utara

Anggaran Penjualan

Anggaran Penjualan

Yakni merupakan skedul rinci yang memperlihatkan penjualan yang diharapkan untuk periode yang akan datang.  Anggaran penjualan berasal dari estimasi permintaan (dan kesanggupan untuk memasok) akan produk perusahaan pada harga tertentu.

Anggaran Penjualan meliputi anggaran tentang jenis produk yang akan dijual, volume produk yang akan dijual, harga perunit, waktu penjualan, dan daerah penjualan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Anggaran Penjualan :

  1. Faktor intern, yaitu factor-faktor dari dalam perusahaan, seperti :
    1. Penjualan tahun-tahun yang lalu
    2. Kebijakan perusahaan terkait masalah penjualan
    3. Kapasitas produksi dan kemungkinan perluasannya
    4. Tenaga kerja yang dimiliki
    5. Modal yang tersedia
    6. Fasilitas-fasilitas lainnya

Faktor Eksternal Perusahaan, yaitu :

    1. Persaingan
    2. Posisi perusahaan dalam persaingan
    3. Tingkat pertumbuhan penduduk
    4. Tingkat penghasilan masyarakat
    5. Faktor-faktor makro lainnya.

 

Contoh Kasus :

Anggaran Penjualan

Sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha industri garmen, akan merencanakan penjualan ke beberapa daerah secara kuartalan sebanyak 300.000 unit selama tahun 2012.

Berikut disajikan informasi berkenaan dengan rencana penjualan di atas, yakni sebagai berikut :

Rencana Penjualan selama 4 kwartal adalah sebagai berikut :

Kwartal I                      :  50.000 unit

Kwartal II                     :  80.000 unit

Kwartal III                    :  40.000 unit

Kwartal IV                   :  30.000 unit

Harga jual/unit           :  Rp. 2.000,-

Tagihan kas kwartal IV pada tahun sebelumnya (2011) adalah Rp. 14.000.000

Tagihan kas penjualan sebagai berikut : 60% ditagih dalam kwartal penjualan, sedangkan sisanya 40% ditagih pada kwartal berikutnya.

Penjualan pada kwartal IV terdapat sebanyak Rp. 15.000.000 yang tidak tertagih dan dimasukkan sebagai piutang usaha pada akhir periode tahun 2012

 

  PT  Maju Terus      
  Anggaran Penjualan    
  31 Desember 2012    
           
    Kwartal    
Keterangan I II III IV Tahun
Expektasi Penjualan 50000 80000 40000 30000 200.000
Harga Jual per Unit 2000 2000 2000 2000 2000
Jumlah Penjualan 100.000.000 160.000.000 80.000.000 60.000.000 400000.000
     

 

 

 

   
  Skedul Ekspektasi Penagihan Kas  
Piutang Usaha 14.000.000       14.000.000
Penjualan          
  Kuartal I (100jt x          
  60%, 40%) 60.000.000 40.00.000     100.000.000
  Kuartal II (160jt x          
  60%, 40%)   96.000.000 64.000.000   160.000.000
  Kuartal III (80jt x          
  60%, 40%)     48.000.000 32.000.000 80.000.000
  Kuartal IV (60jt x          
  60%)       36.000.000 36.000.000
           
Jml Kas yg Ditagih 74.000.000 136.000.000 112.000.000 68.000.000  390.000.000
           
           

 

 

 

 

Anggaran Produksi

ANGGARAN PRODUKSI

 Anggaran produksi adalah perencanaan dan pengorganisasian sebelumnya mengenai orang-orang, bahan-bahan, mesin – mesin, dan peralatan lain serta modal yang diperlukan untuk memproduksi barang pada suatu priode tertentu dimasa depan sesuai dengan apa yang dibutuhkan atau diramalkan.

Adapun tujuan dari perencanaan produksi adalah sebagai berikut :
a. Untuk mencapai tingkat keuntungan tertentu, misalnya berapa hasil yang diproduksi supaya dapat dicapai tingkat keuntungan dengan persentase tertentu dari keuntungan setahun terhadap penjualan yang diinginkan.
b. Untuk menguasai pasar tertentu, sehingga hasil perusahaan ini tetap mempunyai market share tertentu.
c. Untuk mengusahakan supaya perusahaan pabrik ini bekerja pada tingkat efisien tertentu.
d. Untuk mengusahakan dan mempertahankan supaya pekerjaan dan kesempatan kerja yang sudah ada dapat sernakin berkembang.

 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Anggaran Produksi
Untuk dapat membuat suatu perencanaan yang baik haruslah diperhatikan masalah yang terdapat didalam perusahaan dan masalah-masalah yang datangnya dari luar perusahaan. Masalah tersebut seperti kapasitas mesin dan peralatan produktifitas, tenaga kerja, kemampuan pengadaan, dan penyediaan bahan baku yang merupakan variabel-variabel dibawah kekuasaan pimpinan perusahaan.
Sedangkan masalah yang datang dari luar perusahaan berupa kebijaksanaan pemerintah, inflasi, bencana alam, dan sebagainya. Selain dari masalah diatas, perlu juga dipertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut:
a. Sifat dari proses produksi
b. Jenis dan mutu barang yang diproduksi
c. Jenis barang yang.diproduksi

Faktor-faktor Internal dan Eksternal dalam Penyusunan Budget Produksi

Faktor internal adalah faktor-faktor yang berada dalam perusahaan yang

mempunyai pengaruh terhadap kelangsungan perusahaan :

a. Penjualan tahun lalu’bisajadi patokan

b. Kebijakan perusahaan yang berhubungan dengan harga jual

c. Syarat pembayaran barang yang dijual

d. Pemilihan saluran distribusi

e. Tenaga kerja yang dimiliki perusahaan (Quantitatif atau Qualitatif)

f. Modal kerja yang dimiliki perusahaan (Current asset -Current liabilities)

g. Fasilitas yang dimiliki perusahaan

h. Kebijaksanaan perusahaan yang dimiliki perusahaan dibidang-bidang lain.
Faktor-faktor eksternal/ faktor luar perusahaan, tapi memiliki pengaruh
terhadap perusahaan :
a. Persaingan
b. Tingkat pertumbuhan penduduk
c. Tingkat penghasilan masyarakat
d. Tingkat pendidikan masyarakat
e. Tingkat penyebaran masyarakat
f. Agama, adat istiadat dan kebijaksanaan masyarakat
g. Kebijaksanaan pemerintah
h. Keadaaan perekonomian internasional maupun nasional dan kemajuan tehnologi.